Batu Menjulur ke Laut, Pesona yang Menjaga Keseimbangan Pesisir Jember

Spread the love

KONTRAS INDIPENDENT MEDIA SARANA RESTORASI DAN INFORMASI PUBLIK

www.kontrasindipendent.com

(04.10.2026)


JEMBER — Di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, terbentang pantai yang namanya langsung menggambarkan wujudnya”Watu Ulo “menyuguhkan formasi batuan panjang menjorok ke Samudra Hindia, bertekstur menyerupai tubuh ular raksasa. Di balik keindahan itu, tempat ini menyatukan kekayaan alam, warisan leluhur, dan kewaspadaan yang tak boleh luntur.

Berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat kota, ditempuh dalam waktu satu jam, Watu Ulo memiliki hamparan pasir hitam lembut yang kontras dengan warna laut biru kehijauan. Ombaknya kuat, tingginya berkisar 2,5 hingga 4 meter — ciri khas perairan selatan Jawa. Pengunjung datang bukan untuk berenang, melainkan menikmati pemandangan batu yang seakan merayap masuk ke samudra, terutama saat matahari terbenam membiaskan cahaya di permukaan bebatuan basah.

Kisah yang mengiringi tempat ini telah hidup turun-temurun. Warga meyakini formasi tersebut adalah perwujudan tubuh Nogo Rojo, sosok sakti yang terbelah tiga: kepala di Grajagan, badan di sini, dan ekor di Pacitan. Bagi masyarakat setempat, keberadaan batu ini bukan sekadar pemandangan, melainkan bagian dari keseimbangan alam yang harus dihormati — bukan sekadar dijadikan latar foto semata.

Penghormatan itu diwujudkan dalam tradisi Larung Sesaji setiap tanggal tujuh Syawal. Warga berarak membawa hasil bumi dan jajanan pasar menuju bibir pantai, mendoakan keselamatan nelayan dan kelestarian pesisir. “Banyak tamu datang hanya melihat batu. Kami senang mereka datang, cukup ingat: tempat ini punya aturan. Jangan naik ke batu utama, jangan bersuara kasar di tepi laut,” ujar Anshori, penjaga kawasan selama 12 tahun.

Kawasan ini juga menyimpan jejak masa lalu. Di sekitarnya terdapat Goa Jepang, benteng pertahanan peninggalan Perang Dunia Kedua, serta Goa Lawa yang menjadi habitat ribuan kelelawar. Dua situs ini menambah nilai kunjungan: wisatawan tidak hanya menikmati laut, tetapi juga memahami lapisan sejarah yang menyatu dengan kehidupan warga pesisir dari masa ke masa.

Kepariwisataan berkembang secara bertahap. Tiket terintegrasi Watu Ulo–Papuma ditetapkan Rp12.500 per orang sejak Maret 2026. Selama libur Lebaran tahun ini, jumlah pengunjung mencapai 57.806 orang dalam sembilan hari. Pendapatan warga dari usaha kuliner, parkir, dan jasa pemandu meningkat nyata, namun tekanan ikut muncul: sampah terbawa arus, kerusakan vegetasi tepi, serta pengunjung yang melanggar batas aman.

Pengelola menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama. Tujuh pos penjagaan beroperasi, tali pembatas dipasang di zona berbahaya, dan larangan naik ke batu utama ditegaskan lewat papan pengumuman maupun pengingat lisan. “Kami tidak mengejar jumlah pengunjung semata. Keunikan Watu Ulo terletak pada ketenangan dan penghormatan terhadap alam,” ujar Kepala Disporabudpar Jember, Bobby Arie Sandy.

Saat senja tiba, siluet batu memanjang di permukaan air, seakan bergerak perlahan mengikuti alur ombak. Watu Ulo mengajarkan bahwa keindahan pesisir tak selamanya harus disentuh untuk dinikmati. Kadang kita cukup berdiri, menghormati batas, dan membiarkan alam tetap menjadi dirinya sendiri — utuh, tenang, dan dijaga.

realise: Ririn

publisher: Vivian/Ririn