KONTRAS INDEPENDENT MEDIA RESTORASI DAN INFORMASI PUBLIS
AGAM — Aroma busuk sindikat mafia minyak bersubsidi kini menguap tajam di Nagari Bawan, Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam. Di tengah penderitaan rakyat kecil yang menjerit akibat kelangkaan akut Pertalite dan Bio Solar di SPBU 13.264.519 Bawan, sebuah borok besar terkuak: Kapolsek Bawan diduga kuat menjadi penerima upeti dan suapan rutin dari para pelangsir minyak.
Alih-alih menumpas praktik penyelewengan yang merampok hak publik, diduga Kapolsek pemegang komando di wilayah tersebut justru disinyalir bertindak sebagai pelindung utama, membiarkan para parasit anggaran negara mengeruk keuntungan di atas penderitaan rakyat.
Pemandangan di SPBU 13.264.519 Bawan telah lama berubah menjadi teater pembiaran yang memuakkan. Setiap hari, antrean panjang didominasi oleh kendaraan bertangki modifikasi siluman dan armada jerigen milik para pelangsir profesional. Mereka beroperasi tanpa rasa takut, seolah kebal hukum.
Fakta di lapangan menunjukkan pola yang sistematis:
- Distribusi Dibajak: Pasokan BBM bersubsidi yang baru saja masuk langsung ludes dalam sekejap, habis dilahap oleh lingkaran setan para pelangsir.
- Masyarakat Disingkirkan: Sopir angkutan umum, petani, dan warga biasa harus pulang dengan tangki kosong setelah berjam-jam mengantre sia-sia.
- Aparat Tutup Mata: Kejahatan terang-terangan ini mustahil terjadi tanpa adanya “lampu hijau” dari penguasa wilayah hukum setempat.
Berdasarkan penelusuran informasi dari sumber terpercaya di lingkaran lokal, kelangkaan ini dipelihara demi mengalirkan pundi-pundi rupiah ke kantong-kantong pribadi. Uang panas hasil dari pembajakan kuota subsidi negara diduga mengalir secara berkala sebagai “uang pengaman” kepada sang Kapolsek.
Praktik patgulipat ini mengubah institusi penegak hukum yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat, menjadi wadah transaksi bisnis hitam antara oknum aparat dan para spekulan minyak.
“Bagaimana mau ada penindakan? Polisinya sendiri diduga sudah kenyang suap dari para pelangsir itu. Kami rakyat kecil hanya bisa mengelus dada, dipaksa gigit jari di negeri sendiri sementara minyak subsidi dirampok terang-terangan setiap hari,” ungkap seorang warga setempat dengan nada geram.
Menindaklanjuti keresahan warga yang kian memuncak, Tim Investigasi Kontras Independent langsung turun ke lapangan untuk menemui Kapolsek Bawan guna meminta klarifikasi resmi. Namun, saat didatangi ke markas komandonya, yang bersangkutan tidak berada di tempat.
Tim kemudian berupaya melakukan konfirmasi cepat melalui pesan dan panggilan WhatsApp. Menanggapi temuan tersebut, sang Kapolsek sempat memberikan respons dengan berjanji akan menindaklanjuti karut-marut aktivitas pelangsir dan kelangkaan BBM di wilayah hukumnya.
Sayangnya, janji manis tersebut sekadar retorika kosong. Hingga berita ini diturunkan, sama sekali tidak ada tindakan nyata maupun kelanjutan penindakan dari pihak kepolisian sektor Bawan terhadap para mafia pelangsir minyak. Sikap bungkam dan menghindar ini semakin memperkuat dugaan publik akan adanya keterlibatan dan pembiaran yang disengaja.
Karut-marut di SPBU 13.264.519 Bawan ini sudah bukan lagi sekadar pelanggaran administratif, melainkan kejahatan terstruktur yang merugikan keuangan negara dan memicu kemerahan publik.
Kini, bola panas berada di tangan Kapolda Sumatra Barat dan Bidpropam Polda Sumbar. Publik mendesak tindakan ekstrakurikuler penegakan hukum tanpa kompromi:
- Audit Total Aliran Keuangan: Segera periksa rekening dan aliran dana oknum Kapolsek Bawan untuk membuktikan dugaan suap rutin dari para pelangsir.
- Copot dan Pidanakan: Berikan sanksi pemecatan tidak dengan hormat (PTDH) serta proses pidana jika terbukti ada aliran dana haram yang masuk ke kantong sang perwira beserta sikap manipulatifnya.
- Sanksi Berat SPBU: Cabut izin operasional SPBU 13.264.519 Bawan karena terbukti bersekongkol memuluskan kejahatan migas yang mencekik masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan Kapolsek Bawan dan pihak manajemen SPBU 13.264.519 terus menutup diri dan memilih bungkam seribu bahasa di tengah tuntutan keadilan dari masyarakat luas.
Realis : Team Kontras Independent Sumatra Barat
Publisher: Team Kontras Independent Sumatra Barat
















