Upacara Peringatan Peristiwa Situjuah ke-73 di Lapangan Chatib Sulaiman, Kota PayakumbuhUpacara Peringatan Peristiwa Situjuah ke-73 di Lapangan Chatib Sulaiman, Kota Payakumbuh

Spread the love

KontraS Independent Media Sarana Restorasi Dan Informasi Publik

www.kontrasindependent.com – 15 Januari 2023 – Limo Puluh Kota – Tim Kontras TV Independent memenuhi undangan Gubernur Sumatera Barat untuk memperingati tragedi penyerangan Belanda terhadap para pejuang Indonesia yang tergabung dalam Barisan Pengawal Nagari dan Kota, guna mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa ini kemudian di kenal dengan Pembantaian Lurah Kincia Situjuah Payakumbuh.

Ket : foto by Tim KoiN Regional Sumbar

Kegiatan ini dipusatkan di Lapangan Chatib Sulaiman, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Limo Nagari, Kabupaten Limopuluah Kota, Sabtu (15/1/2022) pagi.

Dalam upacara peringatan ini bertujuan untuk menghargai jasa para pahlawan khususnya dalam peristiwa Situjuah yang merupakan mata rantai Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) 1948-1949 di Sumatera Tengah dalam mempertahankan kemerdekaan RI.

Dimana puluhan orang pejuang yang terdiri dari beberapa pimpinan dan puluhan anggota pasukan Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) tewas seketika diberondong tembakan oleh pihak penjajah Belanda. Peristiwa itu terjadi di Lurah Kincia, Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.

Sejarah Malam Sebelum Peristiwa
Pada tanggal 14 Januari 1949 para pejuang tersebut mengadakan rapat untuk membahas strategi dalam menghadapi agresi yang dilakukan pihak Belanda yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II.

Rapat itu atas instruksi Gubernur Militer Sumatra Tengah Sutan Mohammad Rasjid dan dipimpin oleh Chatib Sulaiman selaku Ketua Markas Pertahanan Rakyat Daerah.

Selain itu rapat juga diikuti oleh beberapa orang pimpinan pejuang lainnya, diantaranya Arisun Sutan Alamsyah (Bupati Militer Lima Puluh Kota), Letnan Kolonel Munir Latief, Mayor Zainuddin, Kapten Tantawi, Lettu Azinar, Letda Syamsul Bahri serta 69 orang pasukan BPNK.

Hasil rapat memutuskan bahwa mereka akan menyerang kota Payakumbuh yang diduduki Belanda, dan akan menduduki kota itu sambil menggelorakan semangat perlawanan gerilya rakyat untuk membuktikan pada dunia internasional bahwa Pemerintahan Republik Indonesia masih ada dan didukung rakyat yang terus melakukan perlawanan dan perjuangan.

Semua itu dilakukan untuk melawan propaganda Belanda yang selalu mengatakan bahwa mereka telah menguasai Indonesia sepenuhnya setelah mereka berhasil menduduki ibu kota Republik Indonesia, Yogyakarta, serta menangkap dan mengasingkan para pemimpin Republik.

Subuh hari setelah beristirahat seusai rapat, ketika hendak melaksanakan shalat subuh tiba-tiba mereka diserang oleh pihak Belanda. Para pimpinan pejuang yang ikut menghadiri rapat tersebut beserta puluhan pejuang lainnya-pun gugur seketika.

Peristiwa yang terjadi di Lurah Kincia, Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat itu dikenang sebagai “Peristiwa Situjuah”.

Laporan Dewan Penasehat Kontras TV Independen Sumatera Barat DR.Otong Rosadi,S.H.,M.Hum.(Otong Rosadi/Ghanai/Rispondi)


barcode kontras