Kontras Independent Media Sarana Restorasi dan Informasi Publik
Ket foto : Ketua Komite SMPN 1 Pagak Rasim.
www.kontrasindependent.com Malang- Setelah beredar informasi dugaan pungli di SMPN 1 Pagak Kabupaten Malang akhirnya ada klarifikasi resmi dari Ketua Komite SMPN 1 Pagak Rasim bersama anggotanya Yanto, untuk meredam tudingan pungutan liar (pungli) sebesar Rp1,7 juta yang sempat beredar di masyarakat.
Mereka menegaskan angka tersebut hanyalah pengajuan awal dalam proposal pengembangan sekolah, bukan kewajiban yang mengikat bagi seluruh wali murid.
Yanto menekankan, dari 234 siswa kelas 7, baru sekitar 40 persen yang menyetorkan sumbangan. Sementara 60 persen lainnya belum membayar karena nominal diserahkan sepenuhnya pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga.

“Nominal sumbangan yg tidak ditentukan. Bisa dicicil Rp80 ribu per bulan, bahkan jika sampai lulus belum lunas, ijazah tetap diberikan,” ujar Rasim.
Komite juga menegaskan aspek sosial menjadi prioritas. Sebanyak 17 siswa yatim piatu dan tidak mampu dibebaskan biaya, sementara 84 siswa pemegang SKTM mendapat keringanan khusus. Setiap pembayaran pun disertai kuitansi sebagai bentuk transparansi.
Kepala Sekolah SMPN 1 Pagak, Mohammad Ali, menambahkan bahwa keterbatasan dana BOS mendorong inisiatif penggalangan dana. Menurutnya, sumbangan dipakai untuk kebutuhan strategis seperti pembangunan aula dan kegiatan siswa yang tidak bisa dibiayai BOS. Ali juga membantah isu penjualan buku modul, menegaskan sekolah hanya menyediakan buku paket resmi.
Kesaksian wali murid turut memperkuat klarifikasi. Wulan, salah satu orang tua siswa, menyatakan keputusan sumbangan diambil secara mufakat dan terbuka.
“Saya hanya mampu Rp400 ribu, tapi tidak keberatan karena prosesnya jelas dan melalui musyawarah,” ungkapnya.
Menutup pernyataan, pihak sekolah menyatakan siap dievaluasi dinas terkait bila ditemukan pelanggaran prosedur. Semua yang dilakukan komite SMPN 1 Pagak sesuai Permendikbud 75 dan perbup no 5 tahun 2024 Komitmen transparansi dan komunikasi terbuka ditegaskan demi menjaga kenyamanan lingkungan belajar.(HR/ Daniel)









