BNPB Catat 2.278 Bencana Alam di Indonesia hingga November 2026, Dipicu Masa Pancaroba

Spread the love

JAKARTA, KONTRAS INDEPENDENT – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan akumulasi kejadian bencana alam di Indonesia resmi menembus angka 2.278 kejadian sepanjang tahun 2026. Data komprehensif ini dihimpun secara kumulatif oleh tim penanggulangan bencana hingga hari Senin (2/11/2026).

Lonjakan angka yang sangat signifikan ini dipicu oleh masuknya laporan 31 kasus bencana baru dalam waktu singkat. Puluhan rentetan bencana tersebut menghantam berbagai wilayah di tanah air hanya dalam kurun waktu akhir pekan lalu.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi penambahan tersebut lewat konferensi pers daring. Dirinya menjelaskan bahwa grafik bencana alam merangkak naik secara instan dalam periode pemantauan mutakhir.

Dalam rinciannya, Berton menyebutkan bahwa bencana hidrometeorologi masih mendominasi laporan akhir pekan. Tercatat ada 11 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), 10 kejadian banjir, 7 kasus cuaca ekstrem, dan 3 peristiwa tanah longsor.

Peristiwa karhutla di antaranya terdeteksi di Kabupaten Kolaka Timur, Sinjai, Luwu, Parigi Moutong, Boyolali, Sidenreng Rappang, Pinrang, Kota Tual, dan Kota Parepare. Sementara itu, bencana banjir merendam pemukiman di Kabupaten Langkat, Sragen, Trenggalek, Banyumas, Cilacap, Dairi, Tanah Datar, Tulungagung, Aceh Barat, hingga Kota Bandung.

Adapun untuk laporan cuaca ekstrem, wilayah terdampak meliputi Kabupaten Nganjuk, Tapin, Magetan, Kuningan, Malang, Lampung Timur, dan Majene. Di sisi lain, insiden tanah longsor akibat pergerakan tanah dilaporkan melanda Kabupaten Simalungun, Banjarnegara, serta Kabupaten Malang.

Berton menjelaskan bahwa anomali berupa kombinasi bencana karhutla dan banjir ini terjadi akibat pengaruh masa transisi cuaca atau pancaroba. Beberapa wilayah Indonesia masih mengalami fase kekeringan kritis, sedangkan sebagian wilayah lainnya sudah mulai diguyur curah hujan dengan intensitas tinggi.

Mengantisipasi eskalasi situasi, pihak BNPB secara tegas mengimbau jajaran pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperketat kesiapsiagaan. Fokus utama mitigasi diarahkan pada masyarakat yang bermukim di dekat bantaran sungai dan kawasan topografi curam yang rentan longsor.

Sebagai langkah tanggap darurat, BNPB mengingatkan warga yang membutuhkan bantuan evakuasi untuk segera bertindak cepat. Masyarakat dapat melaporkan kejadian bencana di wilayah mereka secara langsung melalui nomor saluran siaga (call center) resmi BNPB di 117.