Kontras Independent Media Sarana Restorasi dan Informasi Publik
Ket foto : Utsman Jurnalis Kontras Independent.
KABUPATEN MALANG – Ketika orang lain menikmati berita yang terbit di media, tidak banyak yang tahu tentang perjalanan panjang yang dilalui sebelum tulisan itu sampai di mata pembaca. Di Kabupaten Malang, seperti di daerah-daerah lain, menjadi seorang jurnalis bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia adalah perjalanan penuh dinamika, pertemuan dengan berbagai karakter manusia, serta keteguhan hati untuk menyampaikan kebenaran di tengah berbagai keterbatasan.
Utsman, seorang wartawan yang telah lama mengabdi meliput wilayah Kabupaten Malang, membuka cerita tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik layar profesinya, tentang suka yang menghangatkan hati, sekaligus duka yang kadang menguji keteguhan seorang insan pers.
Saat berita membawa perubahan, itulah kebahagiaan yang tak ternilai.
Menurutnya ada kepuasan batin yang luar biasa ketika sebuah pemberitaan ternyata membawa dampak nyata bagi masyarakat.
Ia menceritakan, momen paling membahagiakan adalah ketika warga datang berterima kasih karena masalah yang mereka alami akhirnya terselesaikan setelah diangkat ke media.
“Sering kali warga datang dengan raut wajah cemas, takut, dan bingung. Mereka tidak tahu ke mana harus melapor, tidak berani bersuara karena merasa tidak punya siapa-siapa. Ketika beritanya terbit dan ada pihak yang bertindak, ketika masalah mereka selesai, dan mereka datang menyampaikan terima kasih dengan tulus — di saat itulah semua rasa lelah terbayar lunas,” ungkap Utsman, Sabtu (24/10/2026).
Kebahagiaan lain juga muncul dari kebersamaan dengan masyarakat. Meliput di daerah berarti harus turun langsung ke lapangan, menyapa warga di pelosok desa, mendengarkan cerita mereka dari hati ke hati.
Hubungan yang terjalin sering kali bukan sekadar wartawan dan narasumber, melainkan persaudaraan yang tulus.Warga menjadi mata dan telinga, memberi informasi, dan mempercayai wartawan sebagai mitra dalam menyuarakan kebenaran.Meski begitu, ia menyebut tidak selamanya berjalan mulus.
Kabupaten Malang memiliki wilayah yang luas, mencakup daerah pegunungan hingga pesisir. Tantangan pertama yang selalu dihadapi adalah akses dan jarak. Ada titik yang jauh dari pusat kota, dengan jalan yang belum memadai, terutama saat musim hujan. Perjalanan berjam-jam adalah hal biasa, dan harus dilakukan berulang kali demi mendapatkan informasi yang akurat.
“Kadang hujan deras turun saat perjalanan pulang. Jalan licin, sinyal hilang, dan berita harus tetap dikirim tepat waktu. Di sinilah keteguhan diuji, apakah akan menyerah atau tetap berjuang agar masyarakat tetap mendapat informasi,” tuturnya.
Selain kendala fisik, tantangan lain datang dari pemahaman sebagian masyarakat terhadap fungsi pers. Masih ada yang menganggap wartawan sebagai ancaman, sehingga informasi yang seharusnya terbuka justru ditutup rapat. Butuh kesabaran ekstra untuk membangun kepercayaan, menjelaskan maksud dan tujuan liputan, serta meyakinkan bahwa pers hadir bukan untuk menyakiti, melainkan untuk membantu menyampaikan yang benar.
“Tekanan dan risiko.Menyampaikan kebenaran tidak selamanya mudah.
Menyampaikan fakta yang kurang menyenangkan memang bukan hal yang populer. Sering kali, berita yang mengungkap masalah dihadapi dengan ketidaknyamanan, bahkan tekanan,” lanjutnya.
Mulai dari dipanggil, ditegur, diancam, hingga dicoba dibujuk dengan hal-hal yang dapat menggeser kebenaran. Ini adalah bagian tersulit yang dihadapi jurnalis di daerah.
“Ketika sebuah berita mengungkap ketidakberesan, reaksi yang muncul beragam. Ada yang menerima dengan terbuka dan berterima kasih, tetapi ada pula yang berusaha menutup-nutupi. Di momen inilah prinsip profesionalitas diuji: apakah tetap berdiri di atas kebenaran, atau membiarkan kebenaran terpendam karena rasa takut?” ujar Utsman dengan nada tenang namun tegas.
Ia menambahkan, godaan juga kerap datang, berupa tawaran agar berita tidak dimuat, atau dimuat dengan versi yang diinginkan pihak tertentu. Namun bagi jurnalis yang memegang teguh kode etik, kepercayaan masyarakat jauh lebih mahal daripada keuntungan sesaat. Menjaga integritas adalah harga yang harus dibayar setiap hari, dan itu tidaklah murah.
“Di tengah segala rintangan itu, saya menemukan alasan untuk terus melangkah. Saya tetap menjalankan tugas ini bukan karena mudah, tetapi karena masyarakat membutuhkan informasi yang benar. Ketika warga kehilangan akses pada informasi yang jujur, mereka menjadi lemah dan mudah disesatkan. Kehadiran pers yang independen adalah salah satu benteng mereka,” jelasnya.
Ia juga berpesan kepada sesama rekan jurnalis, terutama yang baru memasuki dunia ini.
“Jangan pernah lelah untuk belajar. Tetap rendah hati, tetap waspada, dan jangan pernah menjual kebenaran. Tantangan akan selalu ada, tetapi dukungan masyarakat yang mempercayai kita adalah kekuatan yang jauh lebih besar daripada segala ketakutan yang pernah ada,” ungkapnya.
Utsman meyakini, setiap berita yang disampaikan adalah amanah. Amanah untuk jujur, amanah untuk adil, dan amanah untuk tidak memihak. Selama ada warga yang percaya dan membutuhkan kehadiran pers, selama itu pula tugas ini akan terus dijalankan, meski lika-liku suka dan duka terus menemani setiap langkah.(Redaksi)








