Kontras Independent Media Sarana Restorasi dan Informasi Publik
Opini publik oleh : Utsman
www.kontrasindependent.com MALANG — Wahai Indonesiaku tercinta, wahai Ibu Pertiwi… Engkau tentunya bersedih melihat anak bangsa hari ini sedang dirundung berbagai persoalan yang menumpuk dan terasa semakin berat. Lembayung senyum yang dulu sering terlukis di wajah rakyat, kini berganti kerut cemas memikirkan hari esok.
Yang paling hangat menjadi perbincangan di ruang publik saat ini adalah dua program besar yang justru menuai banyak sorotan. program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai penuh kontroversi, serta pelaksanaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang tak sedikit kalangan menengarai sarang penyimpangan dan potensi korupsi di berbagai daerah.
Di saat yang sama, beban hidup masyarakat terasa semakin berat. Harga kebutuhan bahan pokok terus merangkak naik tak terkendali. Bahan bakar minyak pun tak kalah menyusahkan, harganya tinggi dan kerap langka di berbagai penjuru daerah. Warga harus antri berjam-jam, ada yang bahkan tak kuat menahan lelah hingga pingsan, hanya untuk mendapatkan jatah BBM subsidi yang kian sulit ditemukan.
Situasi ini memicu gelombang ketidakpuasan yang tak bisa lagi dibendung. Ribuan mahasiswa turun ke jalan menyampaikan protes mereka. Keprihatinan masyarakat begitu nyata, situasi negara dinilai semakin memprihatinkan. Banyak warga merasa: kritik dan saran seolah tak lagi didengar. Presiden dan jajaran menteri kabinet dinilai masih sibuk di ruang-ruang kantor, seakan tak mendengar jeritan yang menggema dari jalanan dan pelosok desa.

Menurut pengamatan berbagai pakar politik, ekonomi, dan hukum tata negara, Indonesia Seperti Prof Dr. Mahfud MD dan Dr. Ichsanuddin Noorsy
saat ini sedang menghadapi tantangan sistemik yang sangat besar. Bahkan sejumlah akademisi menyebut kondisi ini sebagai gejala krisis multidimensi yang sedang menguji fondasi ketatanegaraan dan kestabilan nasional kita.
Belum lama berlalu, mata publik disuguhi deretan pejabat negara yang tertangkap tangan kasus korupsi, terpampang di layar kaca dan media sosial, dari miliaran hingga triliunan rupiah yang dikorupsi. Luka rakyat belum sempat mengering, namun wajah-wajah baru pun tak jarang ikut tersandung masalah serupa. Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan pun perlahan terkikis, menipis, dan perlahan menghilang.
Sementara itu, di sisi lain, publik menyoroti bahwa perhatian negara tampak lebih tercurah pada pelantikan dan pembagian kursi jabatan di lingkungan pemerintahan. Program MBG masih menyisakan persoalan serius, ribuan siswa di berbagai daerah dilaporkan mengalami keracunan makanan, dan persoalan ini belum menemukan jalan keluar yang tuntas.
Nilai tukar rupiah terus melemah, puluhan hektar hutan di Kalimantan terbakar dan belum tertangani dengan baik, utang negara terus bertambah, dan BBM subsidi makin sulit didapatkan di mana-mana. Langkah efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah diragukan tujuannya, banyak yang menduga anggaran tersebut justru dialihkan untuk menutupi kebutuhan program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih.
Suara rakyat seolah hanya didengar saat masa kampanye, saat suara dibutuhkan untuk menduduki kursi kekuasaan. Namun setelah terpatri di kursi jabatan, semua seolah menjadi tuli dan buta terhadap jeritan yang meminta perhatian.
Apakah pejabat-pejabat yang duduk di lembaga negara hari ini benar-benar hadir untuk melayani rakyat, atau sekadar menduduki jabatan karena haus kekuasaan, serakah, dan tamak tanpa menyentuh hati nurani?
Bangsa ini tak butuh banyak janji bangsa ini butuh tindakan nyata. Mendengarkan rakyat adalah kewajiban pertama seorang pemimpin. Karena pada akhirnya, kekuasaan itu titipan rakyat, dan kepada rakyatlah semua kembali.(*)
Publisher : Utsman Pimpinan Liputan Nasional Kontras TV dan online.








