Keluarga Korban Penganiayaan Keberatan Atas Penangguhan 14 Warga Batang Onang Sumatera Utara.

Foto Gambar Keluarga Korban Penganiayaan by Tim KoiN Regional Sumatera

Lawyer” :Keluarga Korban Penganiayaan Keberatan Atas Penangguhan 14 Warga Batang Onang

www.Kontrasindependent.com – 05 Juli 2021 – Padang sidimpuan – Pengusaha Galian C di Sungai Aek Sihapas dan korban penganiayaan di Desa Padang Garugur, Kecamatan Batang Onang, Kabupaten Padanglawas Utara (Paluta) keberatan atas adanya rencana penangguhan penahanan 14 Warga perusakan dan penganiayaan di Desa Padang Garugur.

Keberatan itu diungkapkan pada konferensi pers yang dilaksanakan di J & J Cafe Jalan SM Raja Kecamatan P.Sidimpuan Selatan dan awak media Kontras Independent juga langsung datang kekantor advokat law office Tris widodo dikampung marancar  Kota P.Sidimpuan oleh Pengusaha Galian C, H Paraduan Siregar bersama korban penganiayaan Timbul Siregar didampingi Penasehat Hukumnya H Tris Widodo di P. Sidimpuan, Senin (05/07).

Dikatakan, pihaknya sudah menyampaikan surat keberatan ke Polres Tapsel pagi ini.

Paraduan mengatakan, surat tersebut mereka sampaikan karena adanya upaya kelompok masyarakat mendesak Kapolres Tapsel agar membebaskan 14 tersangka yang telah melakukan penganiayaan sehingga menyebabkan cacat kebutaan permanen sesuai dengan diagnosa dokter pada salah satu mata korban sebalah kanan dan pengerusakan  satu unit ekskavator dan tiga unit truk.

Selain itu, ujar Paraduan, akibat perlakuan kelompok tersebut, dia mengalami kerugian yang cukup besar baik materil maupun immateril karena usaha Galian C tersebut tidak dapat beroperasi sedangkan dirinya sudah melunasi kewajibannya kepada negara.

“Akibat perlakuan kelompok itu, mata adik kandung saya (Timbul Siregar “korban”) buta permanen, alat berat dan truk dirusak, usaha tidak bisa beroperasi,” terang Paraduan.

Ketika disinggung Awak media Kontras Independent, apakah sudah pernah dilakukan  dengan cara mediasi?

“Upaya perdamaian sudah sangat sering dilakukan, namun selalu mengalami jalan buntu. Bahkan telah disepakati, (tapi) selalu diingkari oleh para pelaku dan sampai sekarang pihak mereka pelaku belum juga ada niat baik untuk menemui kami,” Jelas H Paraduan Siregar.

Foto by tim KoiN Regional Sumatera Utara.

Menurut H Paraduan, penegakan hukum yang tegas terhadap setiap pelaku tindak pidana harus dilakukan agar perlakuan tersebut tidak terjadi lagi kepada dirinya dan saudaranya serta terhadap investor lain yang berniat baik untuk membangun perekonomian di wilayah itu.

Penegakan hukum kepada pelaku dimaksud sebagai efek jera dengan maksud dan tujuan agar terjadi perubahan cara pandang dan pola pikir mereka agar daerah tersebut bisa maju dan berkembang setara dengan desa lainnya.

Lanjut H Paraduan, usaha Galian C itu mendapat izin dari dari Dinas Penanaman Modal Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Padanglawas Utara tahun 2019 setelah izin sebelumnya diperoleh tahun 2018 dari tingkat Provinsi Sumatera Utara, namun hingga kini usaha itu belum menghasilkan.

“Meski sudah memperoleh izin tahun 2019 lalu, usaha ini belum menghasilkan, karena yang dilakukan baru berupa persiapan,” terang H Paraduan yang juga mengaku memiliki usaha stone crosher (pemecah batu).

Dia juga membantah tudingan yang disebutkan massa saat berunjuk rasa, katanya tidak ada lahan warga yang rusak akibat Galian C tersebut. Adapun sawah yang rusak adalah merupakan lahan sawah miliknya yang sudah dia beli dari warga.

Sesuai dengan surat yang telah disampaikan ujar Paraduan, diharapkan sebagai korban kami mendapat atensi dan perlindungan hukum dengan tidak mengabulkan permohonan penangguhan atau pengalihan jenis penahanan terhadap 14 tersangka dengan alasan apapun.

Sebelumnya, Sabtu (03/07), Kapolres Tapanuli Selatan AKBP Roman Smaradhana Elhaj saat menanggapi seribuan massa mengatakan, penangkapan 14 warga Batang Onang murni karena tindak pidana penganiayaan yang dilakukan secara bersama-sama (pengeroyokan).

Katanya, proses penangkapan dilakukan atas dasar laporan korban dan masalah perizinan Galian C serta pemalsuan tanda tangan, hingga kini pihaknya belum menerima laporan hal tersebut.

Perlu diketahui, ujar Kapolres, prosedur hukum yang harus dipenuhi oleh pihak keluarga tersangka dan berhubung waktu sudah sore maka kita sepakati pengurusan persyaratan penangguhan penahanan kita lanjutkan hari Senin,(Syahminan Rambe).

Media Sarana Restorasi & Media Sarana Informasi Publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *